
Pelaksanaan pengambilan sampel dilakukan secara langsung pada singkapan batuan yang mewakili kondisi aktual lapisan geologi di area pertambangan. Tim teknis PT Djaya Enviro Consulting melakukan identifikasi lapangan terhadap litologi yang tersingkap, pengamatan struktur batuan, serta pengambilan sampel secara sistematis pada beberapa titik yang dianggap representatif. Pengambilan sampel tersebut bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai komposisi mineral, unsur penyusun, serta sifat geokimia batuan yang berpotensi mempengaruhi pembentukan air asam tambang.
Karakterisasi batuan menjadi tahapan yang sangat penting dalam kajian pemanfaatan FABA sebagai material pelapis PAF. Dengan mengetahui sifat dan kandungan mineral yang terdapat pada batuan, dapat ditentukan tingkat reaktivitas material terhadap proses oksidasi yang berpotensi menghasilkan air asam tambang. Selain itu, informasi karakteristik batuan juga diperlukan untuk menentukan kesesuaian metode pelapisan yang akan diterapkan serta memastikan bahwa FABA mampu berfungsi sebagai penghalang terhadap masuknya oksigen dan air ke dalam material pembentuk asam.
Dalam mendukung kajian tersebut, sampel yang telah diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF) dan X-Ray Diffraction (XRD). Pengujian XRF dilakukan untuk mengetahui kandungan unsur-unsur kimia utama yang terdapat pada batuan, seperti silikon (Si), aluminium (Al), besi (Fe), kalsium (Ca), magnesium (Mg), sulfur (S), serta unsur-unsur lainnya yang berpengaruh terhadap sifat geokimia material. Data hasil analisis XRF memberikan gambaran mengenai komposisi kimia batuan sehingga dapat digunakan untuk mengevaluasi potensi pembentukan air asam serta interaksi yang mungkin terjadi antara material batuan dengan FABA.
Selain pengujian XRF, dilakukan pula analisis menggunakan metode XRD untuk mengidentifikasi jenis mineral yang terkandung dalam sampel batuan. Pengujian XRD memungkinkan penentuan fase mineral secara lebih rinci, seperti keberadaan kuarsa, lempung, pirit, kalsit, maupun mineral lainnya yang mempunyai pengaruh terhadap karakteristik pembentukan asam dan kemampuan penetralan alami material. Informasi mengenai mineralogi batuan ini menjadi dasar penting dalam menentukan strategi pengelolaan batuan pembentuk asam serta desain pemanfaatan FABA sebagai lapisan penutup.
Hasil karakterisasi melalui pengujian XRF dan XRD nantinya akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui kesesuaian material pada lokasi pertambangan dengan konsep pemanfaatan FABA sebagai pelapis PAF. Pemanfaatan FABA sendiri merupakan salah satu bentuk penerapan prinsip ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah non-B3 yang berkelanjutan, dimana residu hasil pembakaran batubara dari pembangkit listrik tenaga uap dapat dimanfaatkan kembali sebagai material yang memiliki nilai guna dalam kegiatan pertambangan.
Melalui kajian yang komprehensif ini, PT Musi Prima Coal bersama PT Djaya Enviro Consulting berupaya menerapkan pengelolaan lingkungan yang lebih baik dengan meminimalkan potensi terbentuknya air asam tambang serta mengoptimalkan pemanfaatan FABA secara aman dan bertanggung jawab. Kegiatan pengambilan sampel dan karakterisasi batuan ini menjadi salah satu tahapan penting dalam penyusunan kajian teknis dan dokumen rincian teknis pemanfaatan FABA, sehingga implementasi di lapangan nantinya dapat dilakukan berdasarkan data ilmiah yang akurat dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dengan adanya kajian ini, diharapkan pemanfaatan FABA sebagai pelapis PAF pada area pertambangan PT Musi Prima Coal dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan lingkungan yang efektif, sekaligus mendukung upaya peningkatan praktik pertambangan yang berkelanjutan (good mining practice) serta penerapan prinsip perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara berkesinambungan.










