
Pemanfaatan FABA sebagai material pelapis PAF bertujuan untuk mengendalikan potensi pembentukan air asam tambang melalui sistem penutupan atau pelapisan material yang berpotensi menghasilkan asam. Dalam pelaksanaannya, diperlukan pemahaman yang memadai mengenai kondisi geologi dan arah aliran air tanah di sekitar lokasi pemanfaatan. Oleh karena itu, survei geolistrik menjadi salah satu tahapan penting dalam penyusunan kajian teknis yang akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dan perencanaan kegiatan pemanfaatan.
Pelaksanaan survei dilakukan menggunakan metode geolistrik dua dimensi (2D), yaitu metode yang mampu memberikan gambaran distribusi nilai resistivitas bawah permukaan secara vertikal maupun horizontal. Metode ini banyak digunakan dalam kajian lingkungan dan hidrogeologi karena dapat mengidentifikasi perbedaan lapisan batuan, keberadaan zona jenuh air, serta memperkirakan arah aliran air tanah berdasarkan karakteristik resistivitas yang diperoleh.
Dalam kegiatan ini, pengukuran dilakukan pada lima lintasan (line) yang telah ditentukan berdasarkan kondisi lapangan dan rencana area pemanfaatan FABA. Masing-masing lintasan dirancang untuk memperoleh informasi yang representatif mengenai kondisi bawah permukaan pada lokasi yang akan digunakan sebagai area pelapisan material PAF. Data hasil pengukuran kemudian diolah dan diinterpretasikan untuk menghasilkan penampang resistivitas dua dimensi yang menggambarkan variasi lapisan tanah dan batuan di bawah permukaan.
Melalui interpretasi hasil geolistrik, dapat diketahui keberadaan lapisan yang berpotensi menjadi jalur pergerakan air tanah serta kecenderungan arah aliran air bawah permukaan. Informasi tersebut menjadi aspek penting dalam mengevaluasi efektivitas penggunaan FABA sebagai material pelapis PAF, khususnya dalam mencegah terjadinya infiltrasi air yang dapat memicu pembentukan air asam tambang dan mengurangi potensi penyebaran kontaminan ke lingkungan sekitar.
Selain mendukung kajian pemanfaatan FABA, kegiatan geolistrik ini juga menjadi bagian dari upaya PT Musi Prima Coal dalam menerapkan prinsip pertambangan yang baik (good mining practice) dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Hasil survei yang diperoleh akan digunakan sebagai data pendukung dalam penyusunan dokumen teknis dan kajian sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk dalam penerapan standar dan persyaratan pengelolaan limbah non-B3 yang berasal dari FABA.
Dengan dilaksanakannya survei geolistrik dua dimensi pada lima lintasan pengukuran, diharapkan diperoleh gambaran yang komprehensif mengenai kondisi hidrogeologi bawah permukaan di area rencana pemanfaatan. Informasi tersebut akan menjadi dasar yang kuat dalam memastikan bahwa pemanfaatan FABA sebagai material pelapis PAF dapat dilakukan secara efektif, aman, serta tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan di sekitar wilayah operasional PT Musi Prima Coal.










