


Tantangan Lingkungan & Fokus Studi
Sebagai bagian dari usaha pertambangan terbuka, IMM menghadapi tantangan serius terhadap kualitas tanah pascatambang. Setelah operasi, lahan bekas tambang sering mengalami degradasi fisik dan kimia tanah — termasuk penurunan pH, rendahnya kandungan unsur hara, struktur tanah rusak, dan oksidasi yang memperparah erosi.Studi riset yang relevan (Munawarah et al., 2025) mengevaluasi status kesuburan tanah pada area reklamasi dan pascatambang IMM pada tahun 2022 dan 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kondisi tanah secara keseluruhan masih tergolong rendah, ada indikasi perbaikan pada beberapa parameter kimia, seperti peningkatan kandungan C-organik, K-total, dan penurunan rasio C/N.
Apa yang Dilakukan & Hasilnya
Pengumpulan data: sampel tanah fisik dan kimia dari area reklamasi & pascatambang, dua kali observasi (2022 & 2024)Analisis: sifat fisik (tekstur, porositas) & sifat kimia (pH, K, P, KTK, C-organik)Temuan kunci:
- Tanah di areal pascatambang secara umum masih memiliki status kesuburan rendah ResearchGate
- Beberapa parameter kimia menunjukkan perbaikan dari 2022 ke 2024 (misalnya peningkatan K, C-organik)
- Program revegetasi yang dilakukan secara berkesinambungan memiliki potensi memperbaiki kualitas tanah secara bertahap

Pelajaran & Relevansi untuk Djaya Enviro
Proses reklamasi pascatambang membutuhkan waktu panjang dan persiapan teknis (perbaikan struktur tanah, pemulihan pH, suplementasi unsur hara)Pendekatan berbasis data sangat penting, survei fisik & kimia agar rekomendasi tindakan (kapur, pupuk organik, formula tanam) tepat sasaranKolaborasi antara konsultan lingkungan dan operasi tambang dapat mendorong hasil konkret: dari “indikasi perbaikan” menjadi “rekomendasi pemulihan berkelanjutan”
Kesimpulan
Kesuburan tanah di area reklamasi dan pascatambang IMM masih tergolong rendah, namun riset terbaru menunjukkan adanya perbaikan pada beberapa parameter kimia seperti peningkatan C-organik dan K-total serta penurunan rasio C/N antara 2022–2024. Temuan ini menegaskan bahwa program revegetasi berkesinambungan memiliki dampak positif, meski pemulihan tanah tetap memerlukan waktu panjang dan intervensi teknis terarah, mulai dari perbaikan struktur dan pH hingga penambahan unsur hara. Dengan pendekatan berbasis data dan kolaborasi antara operasi tambang serta konsultan lingkungan, indikasi perbaikan ini dapat ditransformasikan menjadi strategi pemulihan berkelanjutan bagi lahan pascatambang.






